Senin, 16 Mei 2011

Persahabatan yang Retak


Kalian pernah ngrasain rasanya dijauhin sama temen kalian? Bagi yang udah pernah, pasti udah bisa tahu gimana sakitnya. Dan bagi yang belum pernah, kalian wajib bersyukur sama Allah karena kalian masih diberi kesempatan buat ngrasain indahnya persahabatan.
Yah, inilah sepenggal cerita kehidupanku. Mungkin kalian bisa mengambil hikmah atau suatu pelajaran dari sini.
Putri, salah seorang temenku yang nglakuin itu. Aku kenal putri sejak masuk SMA ini, dan aku sudah bisa ngerti gimana sifat-sifatnya dia walau nggak semua. Tapi yang paling aku hafal dari dia, saat dia marah. Yah, boleh dibilang aku ini anaknya mungkin suka keterlaluan kalo becanda. Setiap dia marah, dia nggak mau ngajak ngomong aku sama sekali. Tapi kejadian yang udah-udah, itu cuma sebentar dan masalahnya selesai begitu aja.
Yang sekarang jadi masalah itu, putri marah lagi. Keadaannya beda sekarang, kejadian yang udah-udah aku pasti tahu kenapa dia marah. Tapi sekarang, aku nggak tahu apa kesalahanku sampe dia marah. Kejadian ini udah lama, mungkin dari awal April sampe tulisan ini selesai ku buat. Dan yang lebih parahnya lagi, aku pun nggak punya keberanian buat ngomong langsung. Beberapa minggu setelah aku tahu aku nggak kuat buat nahan beban pikiranku. Akhirnya aku coba tanya ke dia lewat dinding facebook nya. Aku tanya alasan dia marah dan minta maaf disana. Nggak begitu lama setelah aku nge-post, dia bales postinganku. Tau apa katanya? Kaya gini, “aku juga minta maaf udah buat kamu bingung. Aku cuma nggak man kamu itu ngebeda-bedain temen. Aku sadar aku nggak sepinter kalian.” Abis baca, aku shock banget. Aku nggak nyangka kalo putri bakalan bilang kaya gitu. Trus, aku coba jelasin lagi. Dan sampe sekarang pun dia nggak bales postinganku.
Selama ini, aku nyoba yang terbaik buat temenan sama semuanya. Aku nggak pernah yang namanya beda-bedain temen. Tapi, kenyataannya apa? Aku bingung harus kaya gimana lagi. Kalo disuruh minta maaf, jujur aku juga pengen banget minta maaf. Tapi nggak ada keberanian sama sekali buat ngomong sama putri. Aku takut kalo dia nggak mau nganggep omonganku. Tapi kalo nggak minta maaf, semuanya nggak akan selesai. Aku tahu, kita nggak boleh takut selain pada Tuhan. Tapi tetep aja, perasaan itu masih ada. Aku bingung harus nglakuin apa. Aku juga nggak kuat kalo harus kaya gini terus. Setiap aku inget putri, rasanya tu pengen nangis terus. Yah, mungkin aku ini pengecut karena mundur sebelum mencoba. Mungkin “Kalah sebelum Perang” adalah perumpamaan yang tepat buatku. Tapi aku udah bener-bener nggak kuat, nggak mampu. Dan kalo aku lihat sekarang, dia juga enjoy jalanin kehidupannya seperti tak ada yang terjadi. Karena itulah aku akan menjauh dari kehidupannya, aku taku akan merusak kebahagiaannya. Keputusanku sekarang, untuk jalanin hidup seperti biasanya, aku pasrahin semua sama Allah. Aku cuma bisa berharap semoga Allah membuka pintu hati putri supaya bisa memaafkanku.
Yang ingin aku pesankan bagi semua yang membaca postingan ini. Jagalah sahabat kalian dengan sepenuh hati. Jangan biarkan hatinya terluka, karena luka itu akan terus membekas padanya. Berhati-hati dalam ucapan dan pikiran sangat penting saat kalian melakukan sesuatu. Jangan sampai kalian mengalami hal yang aku alami, karena semua ini sangat menyakitkan.